Weeping Mother Earth (dan celoteh manusia jenaka)

What if the air is hard to breathe
Can you stand without it
What if the world is stop turning
Where will you gonna live

Stop make me dying fast
I Still want to living life
To See the sun, see the moon breath the air

Dentingan lirih ini membuatku terdiam membisu. Jika kamu berdiam sebentar, kamu juga bisa mendengarnya temanku, kita akan dibuatnya membeku. Jemu. Simaklah sekejap, mari kita berdiam sekali ini saja. Aku akan berhenti meneriakkan ocehanku, dan kali ini tutuplah sebentar mulutmu. Bisakah kamu merasakan udara menusukmu, seperti butiran-butiran air yang sekarang menerjangku. Mengangguklah bersamaku temanku, kita masih beruntung. Sedikit buntung, tapi beruntung.

Masih bisakah kamu menghirup dan meniup? Atau apakah kamu kesusahan sekarang temanku? Bagaimana jika udara di sekelilingmu mulai memusuhimu? What if the air is hard to breathe? Can you stand without it? Bagaimana mungkin kamu mengatakan aku harus berhenti?

Setiap hari aku berjalan dan terus berjalan. Telapak kakiku mulai teriris-iris, alas kaki ini sudah tidak bisa melindungiku lagi. Kakiku tidak bisa berhenti, mulutku tak hentinya bernyanyi, walaupun dahaga telah menguras kerongkonganku. Karena aku belum menemukannya, dia yang kucari.

Dia yang aku tidak tahu. Aku tersesat dalam ketidaktahuan dan aku tenggelam dalam ketersesatan. Lalu aku berjalan lagi dan tidak bisa berhenti. Aku tidak peduli dan aku kan terus berlari. Apa yang kamu cari di ketidaktahuan itu? Dari mana kamu tersesat? Apakah kamu tenggelam atau menenggelamkan dirimu sendiri temanku? Tolong jangan marah dulu temanku. Aku bukan untuk kamu musuhi. Tapi aku juga bukan untuk kamu sakiti.

Mengapa kamu begitu sibuk dengan isi kepalamu? Mengapa kamu begitu sibuk dengan gerak gerikmu? Mengapa kamu sangat mudah tersulut dan menyulut? Bagaimana jika kukosongkan saja udara di sekelilingmu? Bagaimana jika kuhentikan saja awan yang bergerak melaluimu? what if the world stop turning? Bagaimana jika aku dapat membuat semuanya berhenti? Where will you gonna live? Kemanakah kepala besarmu akan kau banggakan? Apakah kamu berusaha menakut-nakutiku? Tak bisakah kamu melihat betapa bibirku fasih berbicara dan berteriak? Tanganku menunjuk searah dengan lidahku yang menjulur dan mencibir dunia selain aku. Hidungku mengendus tambang emas dan perak untuk lubang kebahagiaan yang aku tunggu.

Aku manusia, Aku bisa melakukan semuanya. Tetapi telingamu sepertinya tidak terlalu berfungsi teman? Diantara jutaan kata yang sudah kamu lontarkan dan omong kosong yang sudah kamu dendangkan. Aku mengerti jika masih banyak sekali yang harus kamu lepaskan.

Aku mendengarkanmu teman. Aku merasakan yang kamu rasakan dan aku juga merasakan yang kamu lakukan. Karena kamu melakukannya padaku. Sekarang bolehkah aku memintamu mendengar sebentar, sebelum indramu terkikis dan membuat diriku teriris. “Berhenti teman. Stop make me dying fast. I still want to living life. To see the sun, see the moon, breath the air”. “Please care for the green trees and all the life inside it”. Hey, kamu berbicara seperti slogan-slogan yang sering kubaca di kantung-kantung belanja. Aku bosan mendengarnya, permainan kata manusia yang cuma-cuma. Duniaku yang hingar bingar dengan lampu yang terus berganti cahayanya pun bisa dengan sekejap membuatnya fana. Mari berdansa denganku sekarang juga, dan lihat beberapa tegukan racun yang bisa membawa kita berkelana.

Katakanlah yang kamu mau temanku. Tetapi berapa lamakah permainan awan dan langit biru itu bisa bertahan? Sudah siapkah dirimu ketika akan terjaga dan merana? Terjaga dan terpana? Jangan hanyutkan dirimu temanku. Jangan lupa bawa aku dalam ombakmu. Then I’ll treat you (well). I’ll give you better life. Tapi aku biasa bergelimang asap yang bergumul layaknya kabut transparan memasuki sela-sela sesak kehidupan. Kamu lalu bilang: what if the sky is not again blue? what if the stars is disappear too? Kapan ia pernah biru? Kapan ia pernah hadir? Jangan menyangkal teman. Berhenti berpura-pura. Aku tidak bercanda.

Pejamkan matamu dan rasakan aku. Aku tidak akan beraksi peduli karena itu adalah sebuah gaya. Semua manusia itu berdosa. Lihat aku mengangguk teman. Semua manusia mungkin memang berdosa, tetapi bukankah tergantung padamu yang menentukan kadarnya.

(Aisyah Iskandar)
Base on Homogenic Lyrics

7 Responses to “Weeping Mother Earth (dan celoteh manusia jenaka)”

  1. capoenk says:

    wew… kata2nya.. berat kang…

  2. admin says:

    makane dibaca nal, jangan diangkat. wkwkwkwkwkwk

  3. sora says:

    wow..wow…wow….

  4. aia says:

    ngeri… dah…. :) )

  5. admin says:

    memang dari awal saya juga agak ribet bacanya. Thanks for your advice :D

  6. I am very thankful to this topic because it really gives great information `,”

  7. :rina says:

    : apaan ini sam?
    Ga ngerti..tp ada yg bs kutangkp sdkit dr sni…
    ” i feel sad when i read it” meski ga ngerti smua artinya

Leave a Reply